Hugo Chavez, Presiden Venezuela, Inspirator Gerakan Marxisme Abad ke-21

Hugo Chavez, Presiden Venezuela, Inspirator Gerakan Marxisme Abad ke-21

Pada tanggal 5 Maret 2013 kaum Marxisme sedunia dikagetkan dengan meninggalnya Hugo Chavez, sang pemimpin Venezuela juga inspirator gerakan sosialisme di dunia pada abad 21 ini. Peranan Hugo Chavez pada abad 21 tidak dapat dipungkiri merubah warna dari gerakan Marxisme dan sosialisme di dunia. Chavez menjadi suatu koreksi atas praktik Uni Soviet (Rusia) dan Cina pada masa lalu. Kita tahu bahwa saat ini siapa pun tidak ada yang sepakat lagi berkata bahwa Rusia dan Cina adalah negara sosialis, mereka sekarang sudah menjadi kapitalis yang bahkan lebih buas dari Kapitalis di Eropa Barat. Sekarang Cina-Rusia memiliki individu-individu yang menghiasi majalah-majalah sebagai orang terkaya di dunia tetapi di sisi lain banyak rakyatnya sudah menjauhi kondisi-kondisi sebagai suatu sosialisme. Persaingan hidup yang ketat di kedua negara itu, kesenjangan kaya-miskin yang semakin jelas, kesejahteraan pekerja yang begitu buruk adalah buktinya.

Bagaimana dengan Korea Utara? layakah kita sebut dia negara sosialis? Bahkan dia tidak mengerti apa itu sosialisme. Korea Utara mengandalkan persaingan militer, negara dikuasai birokrasi, rakyat tetap bodoh dan  kekuasaan itu tetap berada para birokrasi dan menjadi politik dinasti, suatu Monarkhi Sosialis? Chavez dalam 14 tahun terakhir berusaha memberikan kepada kita suatu pelajaran tentang Gerakan Marxisme dan Sosialisme. Chavez seperti layaknya Tan Malaka di Indonesia berusaha mempersatukan negara-negara kawasan tempat negaranya berdiri. Chavez dengan Amerika Latinnya dan Tan Malaka dengan Asia Tenggara-Australianya. Chavez dan Tan Malaka sama-sama berdiri di atas prinsip Internasional dalam Teori Marxisme. Chavez dan Tan Malaka sama-sama berdiri di atas prinsip bahwa kekuasaaan ada di tangan rakyat pekerja.

Chavez telah merubah secara bertahap semenjak dia meraih kekuasaan, dia mendorong lahirnya dewan-dewan komunal di pabrik-pabrik sesuai dengan Teori Trotsky bahwa rakyat pekerja harus mandiri dan terdidik. Chavez mendorong para pekerja untuk bekerja pada hari senin sampai kamis dan sisanya mereka harus “turun ke jalan”. Mereka harus terdidik secara politik dan sosiologis sehingga mereka mampu mencanangkan masa depan mereka sendiri. Kematangan rakyat pekerja ini untuk kemudian mengganti peranan birokrasi. Jikalau kemajuan apa yang dilakukan Chavez belum membuat banyak kalangan puas dan membenarkan sosialisme, saya katakan bahwa kota Roma pun tidak dibangun dalam 14 Tahun. Sebuah peradaban sosialisme entah dia untuk mapan di sebuah negara adalah omong kosong jika itu tidak mencapai seluruh dunia. Tetapi pencapaian Chavez sudah termasuk luar biasa dalam 14 tahun ini yaitu dia telah mengangkat jutaan orang-orang miskin dari lembah kemiskinan yang parah, itu yang membuatnya terus menang dalam pemilihan Presiden. Kita tahu bahwa teori ekonomi Marxis tidak menganut standar-standar ekonomi kapitalisme, mereka yang berusaha menyerang pencapaian Chavez menggunakan teori-teori ekonomi kapitalisme atas nama pertumbuhan ekonomi itu hanya berhasil mempengaruhi orang-orang yang sama sekali belum mempelajari apa itu ekonomi Marxis. Siapa pun ekonom di Universitas-Universitas kenamaan tidak ada yang mengelak bahwa Venezuela sebelum Chavez hanyalah karikatur dari sebuah masyarakat miskin dan kelaparan.

Chavez telah berusaha menyatukan kembali sejarah sosialisme, seperti kata Marx dari “Utopis ke ilmiah” demikian Chavez telah mendorong gerakan Marxisme-Kristen sebuah warna baru yang konkrit yang menjadi menara. Sebuah titik pionir untuk memulai mengutuhkan kembali sosialisme yaitu meleburnya Kristen dan Marxisme memberikan gerakan sosialisme keutuhannya, yaitu penyatuan dari dasar materi (Marxisme), etika dan spiritual (Kristen). Sebuah pencapaian baru sejarah, dimana tidak mungkin seorang Kristen adalah benar Kristen jikalau dia menentang ekonomi Marxis. Sebab Marxisme mengejar kondisi komunis (ekonomi komunal) demikian Kristen mengejar kondisi yang sama seperti The First Commune.

Chavez selama memimpin berdiri di atas 3 dasar:

Kaum birokrat adalah elemen konservatif dari Chavista. Oportunistik dan cenderung korup, para Chavista tetiron ini berusaha mengekang laju revolusi. Para birokrat tidak dilahirkan dalam spirit Marxisme dan Sosialisme, mereka bermental seperti umumnya birokrat yaitu merapat ke pihak yang menang namun tetap melekatkan ego mereka sebagai penguasa, karena sekali lagi; lingkungan yang melahirkan mereka. Para birokrat telah terbukti hasil kerjanya di masa lalu ketika terjadinya pengkhianatan Revolusi Bolshevik, semenjak itulah gerakan sosialisme sedunia mencapai kematiannya yang perlahan tapi pasti. Chavez telah menghidupkan kembali gerakan sosialisme di abad 21, pasca kemenangan kapitalisme Amerika Serikat atas Uni Soviet.

Apa yang dihasilkan para birokrat? Tidak lain dan tidak bukan, adalah alternatif bahwa kapitalisme adalah yang terbaik, itulah yang sekarang menimpa Rusia dan Cina. Kita tahu bahwa kita butuh birokrat terutama ketika rakyat pekerja masih buta politik dan ilmu organisasi, Chavez berusaha mendidik rakyat pekerja disamping dia harus tetap menggunakan birokrat. Kalangan proletar itulah pondasi kekuatan gerakan sosialisme, kita tahu kalangan proletar yang tidak cerdas maka tidak mungkin memenangkan cita-citanya, tidak mungkin melahirkan sosialisme. Bagaimanakah mereka dapat mengolah kehidupan mereka? mengolah produksi dan distribusi produk-produk? Terlebih bagaimana mereka mengorganisisr kekuatannya? Demikian pendidikan Marxis berbeda dengan pendidikan Universitas, karena Marxis menghadirkan lingkungan yang berbeda dengan Universitas. Sama seperti berbedanya orang yang bersekolah di pesantren dan sekolah barat.

Kaum intelektual adalah elemen moderat dari Chavismo, mereka adalah golongan terpelajar yang dilahirkan dalam lingkungan yang masih kapitalis sehingga jiwanya masih dominan kapitalis dan borjuis. Seperti pondasi filsafat Marxis bahwa “lingkungan membentuk cara berpikir bahkan berperasaan manusia” maka demikian kaum intelektual dalam lingkungan kapitalis tidak akan pernah menjadi kekuatan pendorong sosialisme. Trotsky sudah memberitahukannya kepada kita, bahwa kita harus melahirkan intelektual baru dalam kalangan proletar, yang cerdas tetapi memahami sosialisme dalam darah dan rohnya. Intelektual Venezuela, yaitu mereka yang bergelar panjang, selalu merasa tahu apa yang terbaik bagi rakyat pekerja, banyak diantara mereka yang cenderung pada reformisme. Itu pula yang terjadi di Indonesia sebuah jargon reformasi yang hasilnya seperti sekarang.

Rakyat pekerja, yang semakin “melek” politik, yang terorganisasi dalam Lingkaran-lingkaran Bolivarian, dewan-dewan komunal, dan dewan-dewan buruh, adalah elemen radikal dari Chavista. Tetapi radikalisme mereka perlu mendapatkan format dan arah yang jelas, agar tidak dibajak oleh para oportunis dan/atau “dilembutkan” oleh para reformis. Kalangan ini memiliki jiwa dan semangat untuk sosialisme, mereka memiliki konsistensi untuk itu tetapi kecerdasan mereka kurang. Oleh karena itu energi terbesar dalam pergerakan Marxisme ini harus diberi format dan arah yang jelas. Mereka harus belajar berpikir, mereka harus banyak membaca dan menganalisis, mereka tidak boleh kalah dengan kaum intelektual yaitu mereka yang bergelar panjang. Arah untuk kekuatan mereka ada pada Marxisme revolusioner – ideologi “alami” kelas buruh, proletariat. Untuk itu, proletariat Venezuela harus bergerak, meraih kepemimpinan revolusi: mempersatukan seluruh rakyat pekerja dan memimpin mereka menuntaskan tugas historis – Revolusi Permanen.

Demikian Leon Trotsky seperti disadari Chavez satu-satunya Tokoh Marxist yang sudah mengoreksi karikatur birokrasi merah, dan memberikan bekal bagi gerakan-gerakan sosialisme di mana pun ketika mereka sudah merebut kekuasaan politik. Chavez tidak sembarangan menerapkan kekerasan, tidak seperti Rusia atau Cina tidak juga seperti Korea Utara. Dunia sudah tidak lagi melirik Rusia, CIna atau Korea Utara yang masih hidup dalam mimpi birokrasi merah Stalinisme. Tidak ada satu pun Marxis melirik Korea Utara yang masih menganut logika persaingan, tetapi Chavez dan Venezuela telah menginspirasi gerakan sosialisme kita ke depan. Bahwa Trotsky sudah memberitahukan kepada kita sebuah revolusi permanen yaitu mendidik para proletar, membuat mereka sadar akan kekuatannya, dan mampu menggunakan kekuatannya. Sosialisme tidak selesai dengan terbitnya seorang pemimpin yang mengusung ide sosialisme, sebelum rakyatnya sendiri mampu menjalankan kekuasaan itu, tiada pula dia mampu dapat hidup di dalam satu negara karena setiap negara tergantung pada negara lain.

Chavez menurunkan harga minyaknya, selain karena dia diboikot Amerika tetapi juga untuk membantu negara-negara tetangganya, mendidik rakyat-rakyat tetangga, membuat rakyat-rakyat tetangga sadar akan siapa mereka. Terlebih Chavez menginginkan bahwa Amerika Latin tidak boleh tergantung pada kekuatan Imperialisme Amerika Serikat oleh karena itu Chavez memberi minyak murahnya kepada tetangganya agar mereka mampu membangun sosialisme, mampu melepaskan diri dari kungkungan Amerika Serikat, mampu membangun rakyatnya lepas dari penghisapan. Demikian dia dicintai bukan hanya oleh rakyat Venezuela tetapi seluruh rakyat Amerika Latin. Chavez benar-benar berusaha menkoreksi sosialisme masa lalu yang bukan sosialisme, berusaha mengikis logika persaingan, seperti Uni Soviet yang menjadikan negara sebuah perusahaan besar. Chavez tidak mengajak negara-negara Amerika Latin untuk menyaingi Militer Amerika Serikat tetapi membangun kesadaran rakyat proletariat, mendirikan serikat-serikat buruh, memberi jaminan-jaminan sosial, membangun sektor-sektor ekonomi kerakyatan.

Kemarin pemerintah Amerika Serikat melalui mulut munafiknya memberikan duka citanya dengan mengatakan “Amerika Serikat akan senantiasa mendukung prinsip-prinsip demokrasi, penegakan hukum dan perlindungan HAM yang diterapkan di negara  itu”. Amerika kita tahu satu-satunya negara kuat di dunia ini yang gemar memberikan kontra propaganda untuk Chavez dan Venezuela. Bocah remaja saja tahu bahwa segala institusi HAM di dunia ini mengawal agenda Amerika Serikat. Amerika Serikat memberikan suaka bagi sekitar 200 ribu orang Venezuela semenjak Chavez memimpin Venezuela, siapakah 200 ribu orang itu? Mereka bukan orang-orang miskin yang tertolong oleh Chavez. Filsafat Kemanusiaan Marxis bukanlah seprti filsafat kemanusiaan HAM ala Amerika Serikat. Filsafat kemanusiaan kita dan pemahaman hak-hak dalam filsafat kita berbeda dengan HAM ala barat, itu sudah dijelaskan dalam artikel-artikel sebelumnya.

Amerika Serikat selalu menggemborkan bahwa pemerintahan Chavez melakukan pelanggaran HAM dan bertindak sewenang-wenang. Seandainya kita kembali ke zaman Revolusi Kemerdekaan Amerika Serikat maka itu seperti Inggris berkata kepada George Washington dan kawan-kawannya bahwa Amerika Serikat telah melanggar HAM karena menyita aset-aset Kerajaan Inggris dan melakukan pembunuhan dan pengusiran terhadap opsir-opsir Inggris di Amerika Serikat. Dimata Inggris, Washington adalah bandit, perampok harta kekayaan Kerajaan Inggris dan mereka membunuh suadara-saudara Inggris yang mengelola dan menguasai Amerika Serikat yang adalah koloni Inggris.

Tidak mungkin jutaan rakyat Amerika Latin begitu kehilangan tetapi 200 ribu orang di Amerika Serikat yang katanya warga Venezuela yang tertindas itu merayakannya, jika memang itu bukan kepentingan propaganda Amerika. Teori Marxis sudah mengatakan tentang perjuangan kelas, jikalau kelas-kelas yang dahulu berkuasa tidak menerima keadaan maka mereka dapat pergi dari sebuah negara sosialis menuju negara kapitalis atau jika memang sudah tidak ada negara kapitalis maka kita dapat menyimak kalimat Trotsky, dalam tulisannya; If America Runs Communism apa yang harus kita lakukan pada para konglomerat jika Amerika Serikat jatuh pada Sosialisme? Trotsky bilang berikan mereka satu pulau berikan surga mereka disitu, kekayaan Amerika Serikat hanya sedikit yang keluar untuk menghidupi mereka jikalau mereka tidak mau hidup dalam kondisi sosialisme, biarkan mereka berbuat sesukanya di pulau itu.